Bila tak betah, tak ada yang melarangmu pergi. Jika engkau rindu, tak ada salahnya datang kembali.

Secangkir Protes

Kopi Pagi
Oleh :

Tidak ada hari yang paling ditunggu-tunggu kalau bukan akhir pekan. Kalau bukan akhir pekan, tidak mungkin orang-orang bisa kompak untuk jogging atau duduk santai di beranda menyeruput hanya secangkir kopi pagi untuk dua jam lebih.

Kalau si Jembling, rasanya tidak mengherankan jika dia bisa duduk santai di beranda menikmati kopi pagi, duduk jigang sambil membaca koran. Karena Jembling tidak pernah terikat kontrak dengan perusahaan, dia bukan pegawai negara apalagi pejabat, tidak terikat pemenuhan kewajiban kerja alias pengangguran.

Kalaupun dia membaca koran, dia hanya tertarik pada berita-berita ringan. Kedua matanya tidak pernah melirik kepo pada kolom lowongan perkerjaan.

Jelas saja bagi si Jembling, bahwa tidak ada bedanya antara akhir pekan dan hari-hari biasa, antara hari libur dan hari bekerja. Toh dia tidak pernah merasakan semrawut-nya lalu lintas, jenuhnya bekerja, dia merdeka dari kepenatan atas kemacetan dan kesibukan. Kalaupun dia merasakan macet, itu hanya saat-saat tertentu yang kebetulan pada saat itu, mengharuskan dia terjebak macet. Pada saat-saat tertentu yang lain, dia malah kaget campur bingung ketika melintasi suatu area pada waktu yang dia yakin akan disambut kemacetan, tetapi jalanan tampak longgar. Ia baru sadar bahwa pada hari itu tanggal merah ketika dia terlibat pembicaraan dengan orang.

Sebenarnya kurang tepat juga kalau menyebutnya sebagai pengangguran. Sebab dia juga berdagang kecil-kecilan dan bisnis online. Hanya karena dia tidak punya gelar sarjana, tidak ke kantor serta tidak memiliki rutinitas jam berangkat dan pulang bekerja, orang-orang di sekitarnya mengira dia benar-benar pengangguran.

Akhir pekan ini sama seperti akhir pekan sebelum-sebelumnya. Pagi hari membaca koran, menikmati rokok dan secangkir kopi. Hanya saja, rasa dan warna kopinya kali ini berbeda. Biasanya kopinya hitam pekat, kali ini warnanya menyerupai karamel. Tampak uap melayang di atas panasnya kopi.

Sedikit ia menyeruput, melanjutkannya dengan menghisap rokok. Sejenak ia menatap ke arah cangkir, pandangannya setengah kosong.

Tiba-tiba ia terlibat percakapan batin dengan cangkir: “Kenapa kamu menatap saya seperti itu?”, cangkir protes.

“Saya bingung sekaligus bosan”, Jembling menjawab lesu.

“Apa yang membuatmu bosan? Kopi hitam sudah kamu ganti kok masih bosan?”

“Saya bosan dengan rutinitas”

“Kamu beruntung jadi manusia. Coba bayangkan, betapa bosannya saya. Bibir cangkir saya selalu diseruput olehmu setiap hari. Terkadang diseruput oleh temanmu yang jarang mandi dan tidak pernah sikat gigi itu. Andaikan saja sekali-sekali bibir cangkir ini diseruput Mbak Aura Cinta”, kata cangkir.

“Cangkir kok bisa nafsu dengan wanita?”, Jembling tersenyum sinis.

“Maksud saya, kamu jadi manusia sudah untung. Kenapa bosan? Bosan menganggur dan penghasilan tidak tetap? Kalau begitu coba melamar pekerjaan”

“Hahaha. Mau jadi apa? Wong saya hanya tamatan SMA”, Jembling tersenyum.

“Salahmu, kenapa dulu tidak menyelesaikan kuliah”

“Entahlah, saya mengira jika saya melanjutkan nantinya saya akan lebih bosan”, ujar Jembling.

“Bagaimana bisa?”

“Saya melihat sendiri orang-orang dari pagi hingga sore sibuk dengan pekerjaan. Setiap hari seperti terkurung dalam rutinitas, mengabdikan waktunya untuk perusahaan”, ucap Jembling sambil menyeruput kopi paginya.

“Memang harus bagaimana? Mereka bekerja di perusahaan untuk menafkahi keluarga. Penghasilan terjamin setiap bulannya, tidak seperti kamu”

“Memang benar, tapi saya tidak cocok seperti itu”

“Kenapa?”, cangkir bertanya.

“Selain karena rutinitas yang sama setiap harinya, saya membayangkan jika suatu saat saya pensiun. Saya membayangkan akan kebingungan di hari tua. Yang biasanya sibuk bekerja, lalu menghabiskan waktu di rumah. Di hari tua malah merasa menjadi pengangguran”, kata Jembling.

“Maksudmu dengan pilihan hidupmu yang sekarang, kamu tidak perlu khawatir menjadi pengangguran di hari tua karena pensiun dari pekerjaan? Sebab kamu sudah terbiasa menganggur begitu? Hahaha. Ah, itu khayalanmu saja. Bilang saja kamu menyesal tidak bisa hidup seperti mereka. Intinya bukan bosan, tapi putus asa. Hidupmu kacau, salah jalan! Hahaha”, cangkir tertawa.

Jembling menyeruput habis kopi paginya, “Sialan!”, (prak! *bunyi cangkir) Jembling menutup cangkir kopi paginya.

Secangkir Protes
5 (100%) 4 votes

Bagikan ke :
Tags:

Tinggalkan Balasan

Terbaru dari Kopi Pagi

Placeholder

Kesetiaan Mas Gondhes

Kondisi kesehatan seseorang, bisa dilihat dari seberapa nampak kebahagiaan pada ekspresi wajahnya.
Placeholder

Rumah Sebel(ah)

Alangkah indahnya jika bertetangga dengan orang-orang yang memiliki kepekaan dan selera bergaul
Placeholder

Kopi Pagi

Sebut saja kopi ini, kopi pagi. Saya hidangkan kepada siapapun Anda yang
Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: