Bila tak betah, tak ada yang melarangmu pergi. Jika engkau rindu, tak ada salahnya datang kembali.

Secangkir kopi pagi hari

Rumah Sebel(ah)

Kopi Pagi
Oleh :

Alangkah indahnya jika bertetangga dengan orang-orang yang memiliki kepekaan dan selera bergaul yang baik; saling menghargai, saling menghormati, saling membantu, saling menjaga nama baik, dan menyelamatkan satu sama lain. Di metropolitan, macam-macam orang duduk dan tinggal. Orang-orang dari berbagai macam suku ada di sini. Orang-orang yang tinggal di kawasan elite, biasanya memiliki kecenderungan individualis dalam lingkungannya. Kalau tinggal di perumahan biasa atau pemukiman padat penduduk, orang-orangnya cenderung akrab dan saling mengenal satu sama lain. Tapi mungkin itu tidak sepenuhnya benar, dan juga tidak sepenuhnya salah.

Akhir pekan ini cuaca lumayan cerah. Meski tidak dapat diduga apakah bisa bertahan hingga sore nanti. Beberapa jam lagi pagi akan menuju siang, seharusnya cuaca sedemikian cerahnya sangat mendukung jika Jembling mencuci pakaian. Tetapi yang dilakukan hanya rutinitas seperti biasanya—membaca koran ditemani kopi pagi.

“Ojan! Cepat cuci piring dan habis itu bereskan kamar!” teriakan tetangga kepada anaknya yang terdengar hingga beranda rumah Jembling—bahkan juga hampir sepanjang setengah gang.

“ting!” Jembling menyalakan sebatang kretek dengan pemantik api buatan U.S.A; menarik hisapan panjang, dan menghembuskan kepulan asap.

***

Beberapa pekan yang lalu, ada satu kejadian yang tidak mengenakkan bagi Jembling dengan si tetangga itu. Sore itu selepas maghrib, suara berisik mulai terdengar lagi dari sebelah rumah. Rupanya si tetangga itu sejak kemarin lusa sedang melakukan pengerjaan penggantian keramik dan plafon.

“Mas, nyonya ada di rumah?” Jembling agak berteriak menghampiri tukang yang sedang memotong keramik di halaman.

“Ada mas, sebentar saya panggilkan,” jawab ramah sang tukang menghentikan sementara pekerjaannya.

Tidak lama si tetangga keluar. Usianya sekitar 40 tahun, atau mungkin agak lebih muda. Masih terlihat cantik, tubuhnya tidak gemuk, mengenakan daster batik tanpa lengan, berdiri di depan pintu sambil mengikat rambut, tatapan juteknya menabrak sorot mata Jembling, “Ada perlu apa mas?”

“Maaf Bu mengganggu. Apa pekerjaan tukang masih sampai beberapa hari lagi?” tanya Jembling dengan pelan.

“Mungkin sampai seminggu lagi. Kenapa ya?” kata si tetangga.

“Saya nggak keberatan kalau di rumah ibu sedang ada pekerjaan bangunan. Tapi terus terang saya terganggu karena pekerjaannya dilakukan selepas maghrib hingga malam,” ucap Jembling.

“Habis gimana lagi? Tukang yang kerja di rumah saya ini, bisanya malam. Jadi, saya mohon pengertiannya,” jawab si tetangga agak kecut. Sepertinya ia tidak mengerti antara kewajiban dan hak.

“Saya juga mohon pengertiannya Bu. Ini waktunya orang-orang istirahat,” ucap Jembling.

“Orang lain nggak ada yang protes kok,” si tetangga semakin ngeyel.

Sejenak Jembling terlibat adu mulut, tapi tak lama ia pulang—karena Jembling merasa malas untuk berdebat, apalagi meladeni mulut perempuan. Tetapi tidak sia-sia juga usahanya, suara bising tidak terdengar lagi hingga malam.

Keesokan harinya, pada waktu selepas maghrib, suara bising dari rumah tetangga itu mulai terdengar lagi. Tak ada reaksi apapun oleh Jembling. Tapi yang jelas pada hari berikutnya, suara bising itu tiba-tiba pindah jadwal on air menjadi pagi hingga sore hari. Ternyata, tukang yang bekerja sudah di-reshuffle.

Ada kabar pada suatu pagi dari Pak Endun—yang ketika itu dinas menarik sampah dari tiap-tiap rumah—bahwa si tetangga itu didatangi Bu RT. Entah apa yang diucapkan oleh Bu RT. Pak Endun sendiri yang jarak rumahnya hanya empat blok dari rumah Jembling—sebenarnya juga merasa terganggu dengan kebisingan dari rumah si tetangga itu. Tetapi ia lebih memilih untuk bijaksana. Yang jelas, bagi Jembling Bu RT memang lawan yang imbang untuk si tetangga itu.

***

Sejak kejadian hari itu, Jembling enggan menyapa si tetangga itu. Kalaupun keadaan memaksa untuk berpapasan dan tidak ada lagi tetangga lain di sekitarnya, Jembling hanya memberikan anggukan dan senyum tipis yang dibalas kecut.

“Ojan!” teriak lagi tetangga itu kepada anaknya, “Denger nggak sih tadi disuruh ngapain?!”

“Iya sebentar!” terdengar suara pintu yang dibanting.

Hampir setiap pekan ada saja kegaduhan internal dari rumah sebelah. Hal-hal kecil bisa menjadi keributan besar di rumah itu.

“Kalau dipanggil itu cepat datang, kalau disuruh cepat dikerjakan!” ibunya melanjutkan marahnya, “Jangan bisanya cuma entar-entar melulu”

“Kalau memang nggak bisa nurut, sana ikut bapakmu!” ibunya mulai melampiaskan amarah yang seharusnya tidak perlu menjadi konsumsi warga sekitar.

Meskipun rumah itu kerap kali gaduh, tetangga yang lain tak ada yang menegur. Sejak berpisah dengan suaminya, keluarga itu beranggotakan hanya tiga orang: Ojan, ibunya, dan neneknya.

“Mau jadi apa kamu?!” suara ibunya semakin kencang.

Asu,” Jembling membaca koran sambil mengumpat dalam batin.

“Jangan jadi orang yang cuma bisa menyusahkan!” kata ibunya lagi.

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” Jembling terus ngedumel dalam batin.

Biasanya jika sudah sangat jengkel, Jembling masuk dan menutup rapat-rapat pintu rumahnya untuk meredam suara-suara itu. Tapi nyatanya, dia tetap meneruskan menikmati kopi paginya.

***

Cuaca sedikit mulai mendung. Jembling menutup kedua telinganya dengan earphone; memutar lagu dan berbaring di kursi bambu beranda. Sejenak ia menutup kedua matanya, memikirkan sejumlah rencana-rencana yang menyangkut arah hidupnya ke depan.

Harta, tahta, Raisa,” pikirannya mulai sableng.

Ini seperti memasak rencana-rencana yang tidak pernah benar-benar matang—atau bahkan berakhir gosong. Segalanya tampak ruwet, tapi kali ini ia betul-betul memerlukan tambahan uang. Tiba-tiba ia teringat akan obrolan dengan Pak Memet tiga hari yang lalu. Pak Memet adalah seorang pemilik toko kelontong—yang jaraknya sekitar 50 meter dari rumah Jembling. Pak Memet menawarkan beberapa pekerjaan untuk Jembling, namun hanya satu yang kali ini sepertinya mau tidak mau membuat ia tertarik juga.

Ada satu tanah kosong, bekas lapangan bulu tangkis outdoor di RW sebelah yang dijual. Dan juga ada rumah milik Pak Memet yang dikontrakkan, namun belum ada satupun yang cocok untuk mau menyewa. Pikirnya, mungkin ia bisa membantu mengiklankan di situs-situs semacam jual-beli rumah.

Segera ia bangkit duduk, melepas earphone dari kedua telinganya lalu menyeruput habis kopi paginya. Langsung saja Jembling berdiri untuk segera mandi sebelum pergi menemui calon rekan bisnisnya, Pak Memet.

“Mas, tolong mas,” tiba-tiba suara Ojan mengagetkan dari luar pagar.

“Ada apa?” tanya Jembling.

“Nenek jatuh pingsan di kamar mandi,” jawab Ojan.

Jembling bergegas menuju rumah Ojan.

Rumah Sebel(ah)
Berikan nilai

Bagikan ke :
Tags:

Tinggalkan Balasan

Terbaru dari Kopi Pagi

Secangkir kopi pagi hari

Kesetiaan Mas Gondhes

Kondisi kesehatan seseorang, bisa dilihat dari seberapa nampak kebahagiaan pada ekspresi wajahnya.
Secangkir kopi pagi hari

Secangkir Protes

Tidak ada hari yang paling ditunggu-tunggu kalau bukan akhir pekan. Kalau bukan
Secangkir kopi pagi hari

Kopi Pagi

Sebut saja kopi ini, kopi pagi. Saya hidangkan kepada siapapun Anda yang
Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: