Bila tak betah, tak ada yang melarangmu pergi. Jika engkau rindu, tak ada salahnya datang kembali.

Secangkir kopi pagi hari

Pengikut, Mengikuti, Hingga Ikut-ikutan

Kopi Pagi
Oleh :

Orang-orang hari ini semakin melek teknologi. Smartphone dan internet bukan lagi barang mewah yang hanya bisa dimiliki untuk kalangan menengah ke atas. Anak-anak hari ini juga sudah canggih; tak perlu banyak waktu untuk bisa beradaptasi dengan gadget, media sosial, browsing, searching, dan segala aktivitas dunia digital.

“Dahulu di masa kecil ketika sedang berkumpul dengan teman-teman, tidak ada obrolan atau tawa yang terganggu gara-gara smartphone,” ucap Jembling yang sedang ngopi bersama Gundu temannya, di beranda rumah.

Sore biasanya menjadi waktu favorit bagi Jembling dan teman-temannya untuk berkumpul. Beranda rumah Jembling yang biasa dipilih. Alasannya sederhana: nyaman dan aman. Aman karena tidak perlu khawatir jika ingin kopi, mie instan atau lauk pauk jika sedang beruntung.

“Haha, jelas berbeda. Sekarang tahun berapa? Teknologi sudah jauh berkembang.” Sejenak Gundu menghisap rokoknya dan kembali mesra dengan smartphone-nya, ”Pekerjaan dan komunikasi menjadi lebih mudah”

“Saya kok tidak merasa begitu?”

“Maksudmu bagaimana?” tanya Gundu.

“Saya dari tadi ngomong sama kamu saja sulit. Belum lagi banyak pekerjaan yang tertunda gara-gara kecanduan konsumsi informasi digital,” ucap Jembling.

“Haha. Mumpung di rumahmu ada Wi-Fi, saya kan bisa menghemat kuota. Apa kamu bisa hidup tanpa smartphone? Pekerjaan apa? Sejak kapan kamu punya pekerjaan?” jelas pertanyaan yang terakhir sangat menyinggung.

“Namanya bekerja kan tidak harus formal datang ke kantor. Maksud saya pemakaiannya harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi,” Jembling menjawab.

“Habis mau bagaimana lagi? Sejak media sosial semakin beragam jenisnya, orang semakin mudah untuk kepo atau sekadar narsis,” kata Gundu.

“Ya memang sulit dihindarkan. Anak-anak usia rata-rata 10 tahun saja, tidak sedikit yang memiliki akun. Meskipun dengan cara membohongi form pendaftaran akun ketika ditanya usia.” Respons Jembling mulai serius, “Mereka sangat ingin tahu dan juga ingin menikmati tren mengikuti dan memiliki pengikut pada akun-nya. Jarak mereka dengan informasi apapun sangat dekat. Dan seusia mereka mudah sekali untuk ikut-ikutan”

“Maka dari itu peran orang tua juga diperlukan. Bukan sekadar mengekang, tetapi diperlukan dialog yang luwes dengan anak. Akan lebih baik jika orang tua tidak kalah pengetahuannya, tentang apa yang diakses oleh anaknya.” Gundu menambahkan, “Kalau soal ikut-ikutan, sepertinya bukan anak-anak saja”

“Maksudnya?” tanya Jembling lebih dalam.

“Orang-orang seumuran kita ini juga bisa mudah ikut-ikutan. Contohnya salah satu temanmu. Karena kamu sering mengumpat dengan kosakata Bahasa Jawa Timur, dia juga ikut-ikutan latah seperti kamu, kadang gaya bicaranya juga dipaksakan. Padahal dia bukan orang Jawa. Sama seperti Jupri teman kita, juga seperti itu. Padahal jelas dulu dia gencar dan lantang mengumpat dengan Bahasa Inggris. Sekarang kok mendadak Jowo? Belum lagi, terkadang apa yang kamu masuki dan kerjakan juga jadi bahan ikut-ikutan. Kok ada yang dengan rela mau jadi pengikutmu? Hahaha,” Gundu tertawa.

“Memang ada teman saya yang jenisnya seperti itu, termasuk Jupri. Pernah satu ketika, saya berbincang dengan kerabat saya dengan Bahasa Jawa dia ikut-ikutan tertawa. Ketika ditanya apakah dia mengerti, hanya bisa cengengesan dan menggelengkan kepala,” ucap Jembling.

“Ya memang tidak ada aturan yang melarang tentang itu. Dan tidak ada larangan untuk mempelajari suatu bahasa, apalagi bahasa-bahasa yang dimiliki Nusantara—yang beraneka ragam suku dan budayanya. Hanya saja kalau digunakan sekadar untuk berlagak, itu kesannya fals, sok tahu, dan dipaksakan,” kata Gundu.

“Rugi, jika dengan ikut-ikutan hanya membuat: tidak menjadi diri sendiri, tidak punya prinsip dalam hidup, apalagi jika ikut-ikutan untuk hal-hal negatif,” ucap Jembling.

“Kalau menyanyi dengan suara yang dipaksakan supaya mirip dengan gaya penyanyi aslinya apa itu juga termasuk ikut-ikutan? Seperti kamu dulu, saat kita ramai-ramai karaoke-an. Hahaha,” Gundu tertawa.

Pengikut, Mengikuti, Hingga Ikut-ikutan
Berikan nilai

Bagikan ke :
Tags:

Tinggalkan Balasan

Terbaru dari Kopi Pagi

Secangkir kopi pagi hari

Kesetiaan Mas Gondhes

Kondisi kesehatan seseorang, bisa dilihat dari seberapa nampak kebahagiaan pada ekspresi wajahnya.
Secangkir kopi pagi hari

Rumah Sebel(ah)

Alangkah indahnya jika bertetangga dengan orang-orang yang memiliki kepekaan dan selera bergaul
Secangkir kopi pagi hari

Secangkir Protes

Tidak ada hari yang paling ditunggu-tunggu kalau bukan akhir pekan. Kalau bukan
Secangkir kopi pagi hari

Kopi Pagi

Sebut saja kopi ini, kopi pagi. Saya hidangkan kepada siapapun Anda yang
Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: