Anak selalu ingin tahu dan mencoba hal-hal baru

Mendampingi Proses Kreativitas Anak-anak

Bingkai
Oleh :

Sudah beberapa bulan ini, sepupu kecil saya yang berusia 11 tahun sering mengajak ke toko kelontong saat bermain ke rumah saya—untuk membeli bahan-bahan membuat slime: lem, sabun cair, obat tetes mata, dan pewarna makanan. Itu tidak selalu dia beli ketika dia main ke rumah saya. Terkadang, dia sudah membawa sendiri dari rumahnya.

Saya mengiyakan saja ketika dia mengajak saya untuk ikut membuat slime—yang awalnya saya tidak tahu persis seperti apa itu slime yang dia maksud. Lagi pula, tidak setiap hari juga dia datang ke rumah saya—karena rumahnya berada di Tangerang, sementara saya di Jakarta.

Sederet bahan yang telah siap, satu per satu dicampur ke dalam wadah—dengan takaran dan urutan yang saya tidak ingat. Dan tidak lupa ‘slime activator’. Slime activator adalah sebutan untuk cairan yang membuat bahan-bahan yang telah dicampur menggumpal, kenyal, dan seperti bentuk permen karet yang telah dikunyah. Slime activator ini sendiri bisa menggunakan GOM (borax), atau yang lebih aman bisa juga menggunakan obat tetes mata.

Saya teringat, kata ‘slime’ yang pertama kali saya tahu sekitar tahun 2009–2010. Ketika itu ada acara Indonesia Kids Choice Awards di Global TV. Saya kira jadinya akan seperti itu, tapi ternyata slime yang saya buat tidak persis seperti yang pernah saya lihat di acara itu. Yang ini saya rasakan agak lengket seperti permen karet yang telah dikunyah, hanya saja lebih lumer. Mungkin jika terkena rambut akan sulit lepas. Sementara slime yang pernah saya lihat di Global TV, kok kelihatannya lebih seperti cairan. Bahkan pada cuplikannya, beberapa anak menikmati ketika diguyur slime.

***

Peran orangtua sangat diperlukan dalam mendampingi proses kreativitas anak-anak. Orangtua yang tidak hanya sekadar sebagai orangtua, tapi juga mampu menjadi teman bermain, guru, dan bahkan murid yang belajar dari si anak.

Ternyata mainan seperti ini memilki keasikan tersendiri bagi anak-anak. Anak-anak selalu memiliki ruang imajinasi yang orang-orang dewasa belum tentu mampu menemukan pintu masuk atau bahkan jalannya sekalipun. Memang, mainan seperti ini terlihat agak menghambur-hamburkan uang—apalagi jika slime yang dibuat gagal. Rasa penasaran anak akan menuntut untuk terus mencoba.

Saya tidak setuju jika anak merengek-rengek meminta uang untuk bolak-balik membeli bahan-bahan membuat slime, lantas harus seketika dituruti. Tapi seandainya saya adalah orangtua, saya juga tidak akan tega mengekang proses kreativitasnya. Artinya, peran orangtua dalam membangun komunikasi, memberikan pengertian, dan peraturan kepada anak sangat penting.

Ada jenis anak yang tidak mau tahu karena orangtuanya mampu membelikan apapun—sehingga jika keinginannya tidak segera dituruti, orangtuanya akan merasa sangat kerepotan. Ada juga anak yang walaupun orangtuanya mampu membelikan apapun, tetapi ia sanggup memahami kebutuhan yang primer, sekunder, dan tersier—karena orangtuanya senantiasa memberikan pembelajaran yang baik. Di banyak tempat, ada anak-anak yang sebenarnya ingin lebih mengeksplorasi kreativitas seperti teman-temannya, tetapi ia perlu menabung atau bahkan harus melupakan keinginannya—karena kondisi ekonomi keluarga yang mepet. Sebab itu, penting untuk menumbuhkan kepekaan rasa sosial kepada anak-anak.

Saat ini, anak-anak tumbuh di mana peluang untuk memenuhi rasa ingin tahunya sangat mudah. Ia bisa saja tahu banyak, cukup dengan menggunakan gadget. Berbeda dengan dulu sewaktu saya masih anak-anak. Dulu ketika saya ingin melakukan eksperimen kreatif, tidak ada modal informasi lain—selain dari buku, guru, orangtua, dan pengalaman teman-teman.

Peran orangtua sangat diperlukan dalam mendampingi proses kreativitas anak-anak. Orangtua yang tidak hanya sekadar sebagai orangtua, tapi juga mampu menjadi teman bermain, guru, dan bahkan murid yang belajar dari si anak.

***

Dulu, ketika saya masih berusia sekitar 10 tahun kira-kira, pernah saya menemukan setengah ember cat tembok di balkon rumah yang masih sangat kental. Saya dengan girang memasukkan kedua tangan saya ke dalam ember, mengaduk gemas benda itu. Seorang teman saya yang ketika itu juga sedang bermain di rumah saya, juga saya ajak untuk ikut mengaduk—walaupun ia hanya berani menggunakan satu ujung jarinya.

Saat tiba-tiba teman saya pamit pulang—sambil mencuci tangannya terlebih dulu—suasana mendadak panik, ketika bekas cat di ujung jari teman saya tidak bisa hilang dengan air. Saya pun langsung mengangkat kedua tangan saya, dan ternyata kedua tangan saya yang berlumuran cat tidak dapat dibersihkan dengan air juga. Untung saja semua bisa terselesaikan dengan minyak tanah yang waktu itu masih mudah didapat.

Itu belum seberapa gila. Bahkan yang paling ekstrim, ada anak yang memainkan tai-nya sendiri saat buang air besar di kamar mandi. Tapi jelas itu bukan saya. Saya memang banyak melakukan hal-hal konyol. Tapi please, tolong percaya bahwa yang saya sebutkan barusan, saya benar-benar tidak pernah melakukannya. Cerita ekstrim itu saya dengar dari wali kelas saya ketika duduk di bangku SD kelas V.

Mendampingi Proses Kreativitas Anak-anak
Berikan nilai

Bagikan ke :
Tags:

Tinggalkan Balasan