Maafkan Sayang

Cerpen
Oleh :

Siapapun yang baru mengenalnya, pasti akan terkejut bahwa usianya telah lebih dari delapan belas tahun. Pada bulan yang mendekati akhir tahun ini, usianya akan menginjak dua puluh lima. Wanita berparas cantik, putih warna kulitnya, berhidung mungil, berbibir tipis dan legit itu bernama Dara. Rambutnya lurus, berbadan langsing dan tidak terlalu tinggi.

Dara adalah seorang karyawati yang baru beberapa tahun memulai karirnya. Ia bekerja di sebuah perusahaan sebagai akuntan. Akhir pekan ini ia sudah membuat janji dengan Rio, pria yang memacarinya sejak enam bulan lalu. Pria yang usianya nyaris dua tahun lebih muda dari Dara. Postur tubuhnya tegap, berwajah tampan dan segalanya adalah sempurna bagi Dara. Pertemuan mereka berawal di sebuah warung mie ayam pinggir jalan raya yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari rumah Dara. Saat itu cuaca sedang mendung, udara terasa dingin. Rio yang pada saat itu tengah makan, sesekali melirikkan kedua matanya pada Dara yang tengah menunggu pesanan mie ayamnya untuk dibawa pulang. Dara yang menyadari lirikan Rio berusaha sibuk dengan smartphone-nya; memainkan kunci layar, dan membuka aplikasi perpesanan yang sama sekali tidak ada pesan baru yang masuk. Tak lama hujan turun sangat deras, menjebak dan mendesak mereka berdua untuk saling kenal dan akrab. Awal pertemuan yang membuat mereka kini, enam bulan menjalin kasih.

***

Pada hari Minggu sore, mereka bertemu di tempat yang telah mereka sepakati. Di coffee shop tidak jauh dari tempat Dara bekerja. Dara yang tiba lebih dahulu, mengambil tempat di pojok ruangan. Langsung saja ia memesan kopi latte dan pisang coklat. Tapi tampaknya Dara harus sedikit bersabar, karena ia harus menunggu lumayan lama. Bukan untuk menu yang dipesannya, tapi Rio yang belum juga datang. BBM dan WhatsApp tidak ada balasan.

Empat puluh menit menunggu akhirnya Rio terlihat. Dengan langkah yang ringan dia menghampiri tempat di mana Dara duduk.

“Kemana saja sih kamu?”, Dara bertanya dengan wajah kesal.

“Jalanan macet”, Rio menjawab.

“Kamu yang menentukan waktu dan tempat, tapi kamu biarkan aku menunggu! Kenapa tidak berusaha berangkat lebih awal?”, Dara tidak berhenti.

“Aku tertidur sejak siang”, jawab Rio.

“Selalu saja kamu alasan. Kamu selalu membuatku jengkel!”, ucap Dara dengan wajah kecut.

“Iya, maaf sayang. Sudahlah, kita di sini bukan untuk bertengkar bukan?”, Rio berusaha mencairkan suasana.

“Hemmm. Aku belum pesankan sesuatu untukmu. Sekarang pesanlah, nanti biar aku saja yang bayar”, Dara mulai mencair.

Dara memang sering jengkel terhadap Rio. Bahkan hanya untuk urusan-urusan sepele mereka kerap bertengkar. Walau begitu, Dara tidak sanggup betah bertahan lebih lama dengan kemarahannya. Entah mengapa ia selalu luluh. Yang ia tahu, Rio memiliki daya tersendiri yang selalu bisa membuatnya luluh dan sulit membuatnya berpaling sayang.

“Sudah enam bulan berjalan kita menjalin hubungan, apa kamu berkomitmen untuk serius? Tentu kamu tidak akan mempermainkan aku lagi bukan?”, Dara menagih.

“Kenapa kamu tanya seperti itu?”, tanya Rio.

Dara menarik nafas dalam-dalam, “Aku menginginkan hubungan yang serius, bukan yang tidak jelas”

“Apa kamu masih belum bisa memaafkan kesalahanku beberapa waktu lalu?”, tanya Rio sambil menggenggam kedua tangan Dara.

Sekitar dua bulan yang lalu, Dara pernah memergoki kedekatan Rio dengan seorang perempuan cantik yang usianya lebih muda darinya. Walaupun Dara memergoki tidak secara langsung, hanya melalui jejaring sosial berbagi foto. Ia kerap curiga pada seorang perempuan yang bernama Lisa dengan akunnya @LisaB#hay yang semakin lama, semakin sering mengumbar komentar yang membuat Dara terbakar cemburu. Semakin hari Dara semakin kepo. Ia merasa jauh lebih berkualitas, walaupun di dalam hatinya ia tidak bisa membantah bahwa Lisa memiliki ukuran dada dan bokong yang sangat menarik.

“Entahlah, terkadang aku merasa kamu tidak seperti awal saat kita dekat”, ucap Dara.

“Jadi, kamu sudah tidak percaya lagi denganku?”, kejar Rio.

“Di hari saat kita tidak sedang bersama, kamu sering hilang tanpa kabar. Seakan tidak peduli dengan aku. Aku takut kehilanganmu, kehilangan cintamu”, ucap Dara dengan cemas.

“Maafkan sayang, tapi terkadang aku benar-benar sibuk atau benar-benar lelah karena pekerjaanku. Sehingga saat pulang, aku langsung tertidur hingga esok”, Rio tersenyum, “Percayalah, aku takkan mengecewakanmu lagi”

Rio terus menenangkan dan berusaha mengganti topik pembicaraan. Senyum dan tawa mulai terlihat di wajah Dara. Berdua mereka menghabiskan waktu yang jarang-jarang bisa sedekat ini. Apalagi tiga minggu terakhir ini mereka selalu bertengkar. Rio selalu berusaha menjelaskan kesibukannya. Tapi tetap saja, Dara selalu rewel pada Rio yang sering kabur tanpa kabar. Hingga tak terasa akhirnya sampai di penghujung senja.

“Aku harus pulang sekarang. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan. Dan, maafkan sayang, aku tidak bisa mengantarmu pulang”, Rio menyeruput kopinya.

“Iya”, jelas Dara menjawab dengan terpaksa, ”aku bisa pulang dengan memesan ojek online”

***

Masih ada beberapa sisa waktu senggang bagi Dara. Ia segera membuka gadget-nya: “Juned, lagi di mana kamu? Bisa temui aku sekarang di coffee shop dekat kantorku?”, pesan dikirimkan via WhatsApp kepada Juned, sahabat Dara.

Sudah sejak SMA mereka bersahabat. Juned kenal baik dengan keluarga Dara. Begitupun Dara kenal baik dengan keluarga Juned. Karena saat SMA, mereka sering mengerjakan tugas kelompok bersama teman-teman yang lain di rumah.

Sepanjang waktu menunggu Juned datang, pikirannya gelisah. Ia merasa ragu akan hubungannya dengan Rio. Tapi, ia juga tak bisa menyangkal bahwa ia selalu gagal untuk berpaling sayang darinya. Ia berharap Rio adalah pacar terakhirnya yang kelak akan menikahinya.

Setengah jam telah berlalu, terlihat Juned memasuki ruangan. Memakai celana jeans dan kaos yang dirangkap dengan kemeja yang tidak dikaitkan kancingnya. Ia menghampiri Dara di tempat duduknya dengan melempar senyum manis.

“Sudah lama? Tumben kamu mengajakku bertemu”, ucap Juned.

“Lumayan lama, sebelumnya aku bersama Rio di sini. Kamu mau pesan apa?”, kata Dara.

“Oh, dia ada di sini? Tidak usah, aku masih kenyang”, Juned menjawab.

“Dia sudah pulang, ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. Berhubung waktuku senggang dan masih di sini, aku bisa mengajakmu bertemu”, ucap Dara.

“Waktu senggang? Sesibuk apa kamu sehingga pesan-pesanku di WhatsApp dan BBM tidak pernah kamu baca?”, Juned tersenyum, “Kenapa kamu tidak mengundang teman-teman rempong-mu saja untuk datang ke sini?”

“Iya, maaf soal itu. Mereka pasti sibuk dengan urusannya masing-masing, jadi aku mengajakmu. Dan juga, aku ingin bertemu denganmu. Maaf kalau aku membuatmu repot datang ke sini”, Dara tertunduk.

“Sudah kita bahas yang lain saja”, ucap Juned.

Juned berusaha mengalihkan pembicaraan dengan obrolan-obrolan ringan dan candaan. Dengan Juned, sejenak Dara bisa melepas beban pikirannya. Juned pria manis yang humoris. Suara tertawanya sangat khas di telinga Dara. Mereka berdua tidak pernah sungkan terlibat dalam candaan-candaan yang konyol. Walau humoris, Juned bisa sangat terlihat serius jika keadaan mengharuskannya untuk tidak cengengesan.

Setengah jam berlalu bersama Juned. Tiba-tiba Juned kepo, “Bagaimana kamu dengan Rio?”

“Masih sama seperti yang aku ceritakan”, meskipun jarang bertemu, Dara dan Juned sesekali bertukar kabar via WhatsApp.

“Hahaha”, Juned tertawa.

“Apanya yang lucu?”, tanya Dara.

“Apalagi kalau bukan bodoh. Hahaha”, Juned mencoba menghentikan tawanya, “Tidak seharusnya kamu memberikannya kesempatan. Baginya, mungkin kesempatan yang kamu berikan adalah kesempatan untuk mengulangi lagi. Jangan karena kamu berlebihan mencintainya, sehingga membuat apa yang kamu lihat menjadi tidak seperti yang benar-benar adanya”

“Dara, kamu itu cantik. Masih banyak pria di luar sana yang memiliki kepantasan untuk engkau cintai”, dengan senyum tipis Juned menatap kedua mata Dara dalam-dalam.

“Jangan menatapku seperti itu!”, Dara menundukkan kepalanya, memainkan ponsel pintarnya; kabur dari tatapan Juned sambil melipat bibir manisnya ke dalam, “Aku ingin memberinya kesempatan satu kali lagi. Aku masih sanggup bertahan”

“Sudahlah, ayo aku antar pulang. Sepertinya akan turun hujan, aku tidak membawa jas hujan”, Juned mengajak.

***

Jalanan cukup ramai, tapi tak ada kemacetan. Juned mengendarai sepeda motornya dengan tidak tergesa-gesa. Udara semakin dingin, sementara Dara yang duduk dibonceng oleh Juned entah terbang ke mana pikirannya. Pandangannya seakan beku oleh udara malam. Membuatnya sedikit mengantuk. Ia sandarkan kepala dan tubuhnya di punggung Juned. Tak tahan ia untuk tidak memeluk erat Juned. Semakin berkaca-kaca kedua matanya, hingga menetes air mata. Tangannya memeluk erat pinggang Juned. Tak lama kedua tangannya menerobos, merogoh ke dalam kaos Juned. Juned terkejut, pasrah tak mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Kedua tangan Dara terus naik dari perut Juned ke atas, berhenti di dada Juned. Terasa jantung Juned yang berdebar-debar oleh Dara. Dara tersenyum, perlahan mengembalikan kedua tangannya memeluk erat pinggang Juned.

Sepeda motor Juned berhenti di depan rumah Dara.

“Masuklah dulu Jun”, ajak Dara.

“Tidak usah, terima kasih. Aku langsung pulang saja ya. Kamu istirahat sana”, Juned tersenyum.

Setelah berpamitan, Juned memutar balik arah motornya dan bergegas pulang.

***

Dara merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya. Senyap, tak ada yang paling nyaman selain beristirahat di kamar.

Dengan mata yang sudah mengantuk, ia membuka gadget-nya: “Sayang, kamu sudah sampai di rumah?”, terkirim pesan via WhatsApp untuk Rio.

Lama ia menunggu, sesekali membuka ponsel pintarnya. Tapi tak kunjung ada balasan pesan oleh Rio. Dengan lampu kamar yang masih menyala terang, ia perlahan tertidur. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh smartphone yang bergetar. Dengan mata yang sangat berat ia membuka pemberitahuan pesan masuk.

“Aku sudah sampai di rumah. Cepatlah beristirahat”, pesan WhatsApp dari Juned.

“Ah, sialan kau Jun!”, Dara kembali lelap pada tidurnya.

***

Matahari mulai terbit. Suara aktivitas dan keramaian di luar rumah mulai terdengar. Entah terlempar sampai ke mana, Rio sibuk mencari smartphone yang tak ada di sampingnya saat ia terbangun. Dan ternyata, tersembunyi di balik selimut.

Bergegas ia membuka kunci layar, dan mengetik: “Maafkan sayang, semalam aku kelelahan sehingga aku tidak tahan untuk menahan kantuk begitu aku sampai di rumah”, pesan WhatsApp terkirim untuk Mayang.

Maafkan Sayang
Berikan nilai

Bagikan ke :
Tags:

Tinggalkan Balasan