Bila tak betah, tak ada yang melarangmu pergi. Jika engkau rindu, tak ada salahnya datang kembali.

Kesetiaan Mas Gondhes

Kopi Pagi
Oleh :

Kondisi kesehatan seseorang, bisa dilihat dari seberapa nampak kebahagiaan pada ekspresi wajahnya. Kalau dominasi murung dan masam lebih intens dalam pembawaan sehari-hari, bisa jadi hal tersebut mewakili kondisi seseorang yang mungkin sedang tidak sehat secara fisik, bisa jadi frustasi, atau mungkin putus asa. Tentu sebaliknya jika yang mendominasi ekspresi wajah adalah senyum dan tawa. Tetapi, apa jadinya jika pelampiasan senyum dan tawa dilakukan secara berlebihan — bahkan tidak pada tempatnya.

Sudah sejak tiga bulan lalu, keseharian Gondhes lebih ceria. Hidupnya lebih teratur dan rapi. Mungkin tagihan abodemen air di rumahnya agak meningkat di bulan-bulan terakhir ini karena ia lebih rajin mandi. Sejak tiga bulan lalu, ia berhasil memacari seorang gadis yang baru saja lulus SMA. Gerak-gerik dan perilakunya terkadang membuat khawatir teman-temannya. Ia sering mendadak tersenyum dan tertawa kepada smartphone-nya.

***

Sore ini sebenarnya Jembling mengajak Gondhes untuk berkumpul bersama teman-teman di rumahnya. Tetapi tidak mungkin bagi Gondhes untuk tidak pergi bersama Ambar, kekasihnya — yang hari ini mengajaknya pergi ke sebuah restoran cepat saji di salah satu pusat perbelanjaan modern. Bisa ngambek atau minimal ngedumel seharian jika Gondhes berani menolak ajakkan kekasihnya itu.

Tidak setiap pekan Gondhes berani menuruti ajakkan kekasihnya itu untuk makan enak. Walaupun begitu, kekasihnya cukup mengerti kalau Gondhes masih bekerja sebagai pegawai outsourcing di sebuah perusahaan provider koneksi internet.

“Enak ya mas,” kata Ambar.

“(Enak dengkulmu)” batin Gondhes sambil mengangguk dan tersenyum menyelesaikan makanannya.

“Abis ini aku mau cari sepatu,” ucap Ambar.

“Bukannya dua minggu yang lalu kamu baru beli sepatu?” tanya Gondhes.

“Itu kan sepatu loafer. Aku mau beli sepatu sport. Besok kan hari Minggu, aku mau mulai lari pagi,” jawab Ambar.

“Sejak kapan kamu suka lari pagi?” tanya Gondhes.

“Aku ngerasa agak gemuk. Pokoknya besok kamu temenin aku lari pagi,” kata Ambar.

Gondhes tidak berani berkomentar lebih lanjut tentang itu.

***

Pagi yang direncanakan sedikit mendung. Sejak tadi ponsel Gondhes terus bergetar, namun ia tetap terlelap di atas kasurnya. Gondhes yang terbangun di waktu hampir siang, kaget bukan main. Berulang kali ia mencoba menelpon dan mengirim pesan permintaan maaf kepada Ambar. Jelas saja hal ini membuat Ambar ngambek seharian.

Satu jam, dua jam, tak ada kabar apa-apa di ponselnya. Ia berpikir, mungkin sebaiknya pergi ke rumah Jembling saja. Segera ia bergegas mandi dan memanaskan mesin sepeda motornya, walaupun sebenarnya jarak rumahnya dengan rumah Jembling masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Kurang lebih sudah sebulan belakangan ini ia tidak mampir ke rumah Jembling. Bulan-bulan sebelumnya sejak masa berpacaran dengan Ambar — mungkin hanya beberapa kali dalam sebulan berkumpul bersama Jembling dan teman-temannya.

Gondhes melongok dari luar pagar rumah Jembling. Ternyata Jembling sedang serius mengurusi tanaman-tanaman di berandanya.

“Buka saja pintunya, nggak digembok,” ucap Jembling yang melihat Gondhes cengengesan di luar pagar.

“Kenapa wajahmu lesu begitu?” tanya Jembling.

“Saya sedang suntuk, pusing juga menghadapi Ambar yang egois,” jawab Gondhes.

“Itu ada ketoprak lewat,” kata Jembling sambil berdiri melihat ke arah luar.

“Ya, boleh lah,” ucap Gondhes sambil memeriksa ponselnya.

“Kamu yang traktir ya?” tanya Jembling.

“Wah, saya sedang bokek,” Gondhes menjawab.

“Bukannya seharusnya baru lima hari kemarin kamu terima gaji?” Jembling bertanya heran.

“Sedang saya hemat untuk kebutuhan satu bulan ke depan,” jawab Gondhes sambil cengengesan.

“Hemat ndhas-mu!” kata Jembling.

Sesekali Gondhes memeriksa ponselnya, tak ada kabar dari Ambar.

“Bagaimana kamu dengan Ambar?” tanya Jembling.

“Sedang bad mood dia,” jawab Gondhes.

Sambil menunggu pesanan ketoprak, sesi curhat pun dimulai.

***

Hari demi hari berganti. Ambar pun perlahan luluh hatinya. Tidak tega juga Ambar menjadikan Gondhes sebagai bulan-bulanan bad mood-nya terlalu lama. Gondhes kembali sumringah. Kemanapun Ambar mengajak, ia selalu menyanggupi untuk mengantar dan menemaninya. Gondhes selalu berpegang teguh pada prinsip — bahwa cinta adalah pengorbanan.

Tapi itu tidak bertahan lama, karena pada suatu hari mereka terlibat cekcok panas — yang semula berawal ketika Gondhes meminta pengertiannya kepada Ambar. Gondhes mengatakan bahwa Ambar terkadang terlalu kekanak-kanakkan, terlalu egois, tidak peduli dengan kondisinya — sehingga hal itu yang membuat Gondhes tak tahan untuk memintanya mengubah sifat-sifatnya.

“Oh, jadi selama ini kamu nggak bisa terima kekurangan aku?! Ya udah, kita putus aja!” kata Ambar melalui pesan teksnya.

Gondhes berusaha menjelaskan dan meminta maaf. Tapi Ambar, tak pernah menghiraukan dan meresponsnya. Ambar sangat serius memutuskan hubungan dengan Gondhes, terbukti nama Gondhes dibuang dari relationship status di media sosialnya.

***

Hari-hari yang berat dijalani Gondhes. Sulit untuk melupakan Ambar. Hari-harinya di rumah dihabiskan hanya dikamar. Kalau sepulang kerja, ia langsung bergegas tidur.

Akhir pekan ini ia habiskan setengahnya dengan bangun siang. Sisanya, tentu saja rumah Jembling sangat asik untuk mengentaskan rasa sumpek.

“Ada kopi nggak ini?” langsung saja Gondhes duduk bergabung dengan Jembling dan Gundu di beranda rumah Jembling sore hari.

“Masih ada kelihatannya di dapur. Dari mana kamu? Tumben jalan kaki,” tanya Jembling.

“Dari rumah, saya malas mengeluarkan sepeda motor,” jawab Gondhes.

“Ada apa kok wajahmu kusut begitu?” tanya Gundu.

“Saya baru putus dengan Ambar,” ujar Gondhes sambil mengambil sebatang rokok dari bungkus di depan Gundu.

“Kurang apa saya ini coba? Apa-apa saya turuti. Kemana-mana saya antar dia. Mau panas, mau hujan, kalau dia mengajak, saya selalu siap,” tak habis-habis Gondhes terus ngoceh, mencurahkan isi hatinya.

Kesetiaan Mas Gondhes
Berikan nilai

Bagikan ke :
Tags:

Tinggalkan Balasan

Terbaru dari Kopi Pagi

Placeholder

Rumah Sebel(ah)

Alangkah indahnya jika bertetangga dengan orang-orang yang memiliki kepekaan dan selera bergaul
Placeholder

Secangkir Protes

Tidak ada hari yang paling ditunggu-tunggu kalau bukan akhir pekan. Kalau bukan
Placeholder

Kopi Pagi

Sebut saja kopi ini, kopi pagi. Saya hidangkan kepada siapapun Anda yang
Kembali ke Atas
%d blogger menyukai ini: